Gas ke HBD Day 2: Taklukan Puncak Bukit Sikunir, Dieng…

ardiantoyugo.com – Ini adalah cerita lanjutan dari Gas ke HBD Day 1 kemarin… Setelah cukup kenyang melahap seporsi Mie Ongklok Pak Muhadi, perjalanan langsung dilanjut ke Hostel Tani Jiwo… Kali ini tidak mampir mampir lagi dan tentunya kondisi jalanan lebih menantang… Masih dengan Toyota Hiace yang kebetulan mobil yang saya tumpangi cukup kosong jadi leluasa banget… Kondisi jalanan jelas naik turun meskipun kebanyakan naiknya dan juga berkelok kelok… Ditambah lagi jalanan yang tidak terlalu lebar plus minim penerangan jalan… Kabut juga mulai terlihat menutupi cahaya lampu lampu temaram di bawah sana… Agak membuat ciut karena besoknya pagi buta kita akan menaklukan Puncak Bukit Sikunir, Dieng…

Sekitar jam 9 malam kita serombongan yang terdiri dari beberapa mobil akhirnya sampai juga di Hostel Tani Jiwo… Ternyata tidak sedingin yang saya bayangkan sebelumnya… Langsung menuju ke kamar yang telah dibagi sebelumnya… Satu kamar gede diisi oleh 8 orang dengan tempat tidur tingkat, jadi lumayan rame… Karena masih pada antri mandi, saya pun naik ke lantai 3 untuk mengerjakan tugas, ngobrol bareng temen temen, plus menikmati hangatnya kopi meskipun saya bukan seorang penikmat kopi sejati… Satu hal yang saya suka adalah suasana tenangnya… Yoi, saya lebih menyukai malam dengan suasana tenang untuk bekerja maupun bercengkrama…

Puncak Sikunir, Dieng…

Taklukan Puncak Bukit Sikunir, Dieng

Jam 12 malam saya baru beranjak ke atas kasur… Musti tidur karena sebelum subuh kita harus sudah siap siap menuju ke Puncak Bukit Sikunir, Dieng… Sempat ada drama kehebohan gara gara alarm jam 2 pagi… Satu kamar pada bangun kecuali yang pasang alarm 👿 … Lanjut tidur sebentar dan tepat jam 3 pagi dibangunkan Pak Dosen Motogokil… Satu kamar hanya saya, Mas Adi AHM, dan juga Pak Dosen yang memuntuskan untuk ikut ke Puncak Sikunir… Sementara yang lain memilih untuk berdamai dengan mimpi karena memang agenda masih panjang…

Cuci muka plus ambil air wudhu sekalian karena perkiraan saya mushola di atas akan ramai… Jalanan dari hostel ke tempat parkir Sikunir jelas lebih menantang lagi… Belokan tajam dan tanjakan curam bikin deg degan… Ditambah kabut yang sangat tebal, jarak pandang mungkin kurang dari 10 meter… Jadi benar benar waspada, untung saja ada tour guide yang membantu memberikan arahan kepada pak driver… Bahkan sampai lubang jalanan pun hafal dimana letaknya… Tips bagi yang ingin ke Puncak Sikunir dini hari sebaiknya memang sewa tour guide…

Puncak Bukit Sikunir, Dieng…

Habis sholat subuh langsung ditunjukkan pemandangan indah tak terduga… Brieving sebentar dan langsung melakukan pendakian… Sebenarnya sih tidak terlalu jauh karena kurang dari 1 km… Dan ternyata tidak terlalu dingin juga, lebih dingin saat melakukan pendakian di Kawah Ijen, Jawa Timur… Namun tentunya cukup ngosngosan juga, bahkan kata tour guide-nya memang hari itu lebih berat dibanding hari lainnya… Mungkin karena memang tekanan udara yang berbeda… Tidak sampai 1 jam sudah sampai di Puncak Bukit Sikunir… Dan tentunya menikmati sunrise ditemani angin yang sepoi sepoi…

Meskipun hari Jumat, tapi ternyata cukup ramai juga… Sayangnya kabut yang tadinya turun mulai perlahan lenyap ketika matahari mulai menampakkan sinarnya… Mendung justru sedikit menyelimuti kaki gunung yang membuat sedikit lama menanti matahari muncul… Sempat beberapa menit menikmati, akhirnya lanjut ke sport selanjutnya…

Telaga Cebong, Dieng…

Telaga Cebong, Dieng

Spot yang tidak terlalu jauh dari Puncak Bukit Sikunir, Dieng adalah Telaga Cebong… Jaraknya hanya beberapa puluh meter saja dari puncak bukit… Pemandangan telaga plus perumahan penduduk tidak kalah keren dinikmati dari atas… Ditambah sudah mulai memasuki musim penghujan jadi mulai nampak kehijauan… Tidak berselang lama langsung turun lagi dan di bawah sudah disambut dengan lagu Pamer Bojo versi Cendol Dawet ala Didi Kempot…

Sempat berhenti beristirahat dan menikmati pagi di kaki bukit… Banyak warga sekitar yang menjajakan jajanan khas Dieng… Salah satunya adalah semur kentang mini khas dieng… Rasanya terlalu manis di lidah saya, namun menurut temen temen sih enak… Saya sendiri lebih memilih menikmati manis dan putihnya bubur sumsum… Banyak juga warga yang jual Carica, yang merupakan manisan khas Dieng dan cocok dibeli untuk buah tangan untuk handai tolan… Cukup lama menikmati udara pagi kaki bukit hingga akhirnya kembali ke Hostel untuk sarapan pagi plus persiapan untuk jalan jalan lagi… Hasta mañana…

2 Comments

Leave a Reply