Sensasi Kereta Jaka Tingkir, Solo – Jakarta (Pasar Senen)…

Berhenti di Purwokerto kalau tidak salah...

Yeah… Ceritanya tepat pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 72 lalu tanpa ada rencana sebelumnya langsung cus ke pulau Jakarta… Siangnya saya ditelpon temen tanya apakah bisa ke Jakarta pada sore harinya tanggal 17 Agustus… Ya bisa bisa saja, dan tak berselang lama langsung dikirimi dua buah tiket dari Wates, Yogyakarta ke Jakarta (Pasar Senen) pulang pergi… Dari yang awalnya ngantuk ngantuk syahdu langsung melek gara gara dua buah tiket tersebut πŸ˜† … Oke, nanti sore melanglang buana ke Jakarta (Stasiun Pasar Senen) menggunakan kereta api Jaka Tingkir… Mayan, pengalaman berbeda yang bisa dibuat cerita di blog ini…

Saya sendiri baru pertama kali ini naik kereta api Jaka Tingkir, kalau tidak salah… Sebuah kereta api kelas ekonomi yang melayani rute Stasiun Purwosari (Solo) ke Stasiun Pasar Senen (Jakarta) pulang pergi… Karena kereta api ekonomi sempat terbayang seat 3 – 2 seperti kereta api Gaya Baru Malam pada saat melakukan perjalanan Surabaya – Jogja dulu… Eh ternyata meskipun kereta api Jaka Tingkir ini sama sama kelas ekonomi, tapi seatnya berbeda dengan Gaya Baru Malam…

Selepas magrib langsung meluncur ke Stasiun Wates, nunggu temen yang bawa tiket beberapa menit… Dan langsung check in lalu menunggu di boarding room… Eh ternyata musti cetak boarding pass dulu meskipun sudah menggunakan tiket fisik… Dibantu bapak penjaga check in sih, dan langsung dicetakkan… Tiket fisiknya cuman kepakai buat nyetak boarding pass, selanjutnya yang kepakai ya boardingpass berwarna oren oren tersebut… Oiya, beli tiketnya pas pada hari itu juga dengan harga Rp. 230.000 kalau tidak salah…

Interior bagus dan bersih…

Kereta berangkat dari Wates jam 19.26 jadi masih bisa sholat isya’ dulu di stasiun… Kereta api Jaka Tingkir tiba di Stasiun Wates cukup tepat waktu… Langsung saja menuju ke jalur 2 untuk bersiap menaiki kereta… Tenang dipandu pak polisi khusus kereta yang berjaga dan menunjukkan kira kira gerbong 5 ada di sebelah mana, kebetulan kami berada di gerbong 5… Setelah naik langsung menuju ke kursi yang sesuai dengan boarding pass… Kursi 13 adalah kursi tujuan kami saat itu…

Ternyata konvigurasi seatnya berbeda, kereta api Jaka Tingkir ini memiliki kovigurasi seat 2 – 2… Meskipun tempat duduknya masih tetap berhadap hadapan… Yang menarik adalah A yang digunakan bukan AC split ala rumahan πŸ˜† … Interiornya juga bagus, sudah dilengkapi informasi berupa text LED berjalan… Namun sayangnya GPS lost signal terus, lebih bagusan GPS Andromax milik saya yang selalu akurat πŸ˜† …

Enaknya lagi kebetulan kemarin kok ya pas keretanya sepi walaupun ada hari kejepit yang bisa menjadi libur panjang akhir pekan… Tentu menjadi hikmah tersendiri karena saya dan temen yang menempati kursi 13A dan 13B bisa menguasai kursi depannya… Yoi, dua kursi depan kosong melompong jadi bisa dikuaisai… Banyak juga penumpang lain yang pada tiduran menguasai dua kursi atau selonjoran kaki ke kursi di depannya… Kalau begini kan asik meskipun sandaran punggungnya masih tetep tegak berdiri dan bikin cepet pegel…

Rasanya syahdu… πŸ˜†

Berhubung dari rumah belum makan malam, maka langusung menuju ke gerbong restorasi… Sebenarnya ada mbak mbak pramugari yang tadi sempet menawarkan makanan, tapi tadi belum lapar sih… Menuju gerbong restorasi horor juga karena melewati gerbong genset πŸ˜† … Tanya makanan cuman ada nasi goreng πŸ˜† , ya sudah beli itu dan temen saya pun juga nitip… Nasi goreng seharga Rp. 30.000 dengan rasa aneh ini pun habis meskipun tidak cocok di lidah πŸ˜† … Nambah air mineral kemasan 600 ml seharga Rp. 5.000… Cukup mahal memang kalau di kereta, kalau ada persiapan mending sebelum berangkat beli makanan dulu deh…

Sekitar jam 22.30 entah sampai mana sudah ngantuk ngantuknya… Suara speaker yang menginformasikan akan berhenti di stasiun mana dengan keras cukup menganggu bagi yang ingin tidur… Tapi jelas sangat membantu para penumpang yang ingin turun di stasiun tertentu, dalam artian bukan turun di stasiun tujuan terakhir seperti saya…

Berhenti di Purwokerto kalau tidak salah…

Terus bisa tidur…?? Kalau saya sih enggak πŸ˜† , suara yang cukup berisik, goyangan gerbong, plus sandaran punggung tegak tidak nyaman bagi saya… Namun temen saya dan penumpang lain enjoy enjoy aja pada tidur cukup pules… Saya sih cuman memejamkan mata saja namun masih dam keadaan sadar sambil mendengarkan suara roda kereta berotasi di atas rel kereta plus roda yang menggilas sambungan rel kereta dengan suara khas…

Saya yang ga bisa tidur cuman sedikit sedikit melek celingukan ke sana kemari sambil ngecek gps sampai mana… Setelah Cirebon terasa cukup ngebut nih keretanya, cek via aplikasi Ulysse ternyata cuman jalan 103 km/jam paling mentok… Jam 3.30 subuh sudah memasuki Stasiun Pasar Senen, Jakarta… Wuih tepat waktu dan cukup bingung sampai di sana… Tenang, ikuti saja langkah kaki orang orang πŸ˜† …

Ngapain ke Jakarta…?? Yagh ada urusan sebentar, benar benar sebentar karena saya cuman di Jakarta kalau dihitung hitung cuman 2,5 jam πŸ˜† … Yoi, pada hari itu juga setelah urusa selesai, saya langsung pulang lagi ke Wates dengan menggunakan kereta api Fajar Utama yang berangkat pada jam 6.15 πŸ˜† … Jadi sampai Jakarta cuman numpang cuci muka, sholat subuh, cari sarapan dan pulang deh πŸ˜† … Cerita pulang naik kereta api Fajar Utama kelas binis menyusul ya…Β Hasta maΓ±ana…

4 Comments

1 Trackback / Pingback

  1. Sensasi Kereta Fajar Utama Yogya, Kelas Bisnis... - Ardiantoyugo

Leave a Reply