10 comments on “Transportasi Massal yang Masih Jauh dari Harapan…

  1. kalau mau tanya alat transportasi massal tanya sang ahli Kawasaki Heavy Industries. banyak dipake d Jepang.USA.China.Taiwan. Singapore.dsb

  2. Jangankan transportasi darat dan laut. Lha wong pesawat aja sering telat sampe berjam2 (biasanya sih diumumkan sebagai “alasan operasional”), dan di Juanda masih ada calo juga yg nawarin tiket. Dan pesawat juga jadwalnya masih ada yg belum terintegrasi.

    Sebagai pengguna kereta api dan pesawat, saya khususnya apresiasi kemajuan pelayanan kereta api. Dibanding empat tahun lalu, pelayanan kereta api sudah jauh lebih baik. Sedangkan pesawat kemajuan pelayanannya dalam kurun waktu yg sama belum semaju kereta api.

    Kalo kapal laut dan bus antar kota saya sudah lama sekali tidak menggunakan, sehingga tidak tahu perkembangannya.

    • Wabil khususon pesawat (transport udara), ada satu “kendala” yg tidak nampak dimata konsumen, yakni kapasitas bandara yg sudah tidak menampung jumlah flight dari maskapai.

      Jadi ceritanya maskapai sudah “semangat” membangun rute2 baru, nambah frekuensi flight, nambah armada, dst… Sayangnya penyedia jasa bandara “telat” mengimbangi pertumbuhan ini. Hasilnya ya seperti yg dilalami banyak konsumen spt Mas Eko ini (telat berjam2 dg alasan operasional, dll), itu salah satunya karena efek “bottle neck” traffic di bandara asal/tujuan.
      Saya pernah kok, sudah kelihatan bandara dibawah, tapi diputer2 diatas 30 menit cuma nunggu giliran landing, juga pernah alami pesawat sudah keluar parkiran terminal, tapi antri 30 menit sampe benar2 take -off (bayangkan efeknya bagi penumpang lain di ruang tunggu)

      Operasional Bandara T3 Ultimate Soekarno Hatta, Cengkareng, sebenarnya bisa dibilang telat 5 tahun kalo melihat jumlah penumpang yg bergerak di CGK itu sejak 2010, dan bandara kota besar lain (di ibukota propinsi) juga harus siap ekspansi juga utk mengimbanginya

  3. Tidak bisa dipungkiri, pemerintah sbg regulator juga tetap harus intervensi (meski tetap ada batasnya) agar bisnis transportasi massal yg dikelola swasta tetap menarik secara bisnis (utk yg selain kereta api ya), jadi pengusaha/investor juga mau berkompetisi utk memberikan layanan yg terbaik meski utk kelas ekonomi.

    Saya pikir subsidi/insentif utk bus kelas ekonomi tetap diperlukan, agar sisi safety tetap diperhatikan juga oleh pengusaha bus tsb.

    KRD di regional lain mungkin baru akan bisa optimal kalau manajemennya dipisah dari DAOP, seperti commuter line di jakarta.

Leave a Reply