Surabaya, Memberi Tempat Duduk Prioritas Sudah Musnah…

memberikan tempat duduk kepada orang tua

Yeah… Surabaya, Kota Pahlawan kalau kebanyakan orang menyebutnya… Namun julukan dari saya adalah Kota 1001 Klakson… Bagaimana tidak, disaat jalanan sudah tau macet namun tetap saja pada membunyikan klakson seenak jempolnya… Padahal membunyikan klakson sampe jempol kapalan dan aki tekor pun ga akan mengurai kemacetan… Namun ada satu hal lagi sisi buruk kota yang cukup akrab bagi saya… Bukan di jalan raya, hal ini saya jumpai ketika melakukan perjalanan ke Malang menggunakan kereta beberapa waktu lalu…

Sebenernya ga ada yang aneh ketika awalnya memasuki Kereta Api Penataran… Gerbong 3 yang saya tumpangi cukup lega, bahkan tempat duduk di depan dan samping saya masih kosong… Sehingga begitu kereta berjalan saya langsung merasakan ngantuk, maklum saja malamnya baru tidur sekitar 4,5 jam… Saya pun bener bener sampai tertidur di kereta, tidak lama mungkin cuman 20 menitan…

memberikan tempat duduk kepada wanita

Begitu bangun dengan mata masih merem merem akibat sinar matahari yang silau mulai terlihat di jendela sisi kiri… Ternyata gerbong sudah penuh sesak oleh penumpang, tempat duduk samping dan depan saya pun sudah terisi… Bahkan banyak penumpang yang berdiri, saya juga heran kenapa masih diperbolehkan penumpang berdiri… Sempet celingukan karena agak diesel lag :mrgreen: , jangan jangan saya tersesat ke dunia paralel setelah melewati lorong waktu antah berantah :mrgreen: … Tapi ternyata tidak, masih ingat betul penumpang yang sama sebelum saya tertidur…

budaya toleransi

Penumpang yang berdiri cukup banyak, mungkin belasan orang yang berdiri di gerbong ke tiga ini… Banyak penumpang perempuan dengan mata masih setengah melek pada berdiri… Yagh, teringat pelajaran kelas berapa entah saya sudah lupa… Memberikan tempat duduk kepada wanita dan orang tua di tempat umum adalah hal yang baik tentunya bagi seorang laki laki… Saya pun swap dengan salah seorang penumpang yang berdiri, dan sempet bingung juga karena tiba tiba banyak penumpang lain yang mengarahkan matanya pada saya… Padahal saya ga lagi nyopet lho, suwer, setidaknya pada waktu itu :mrgreen: … Berhenti lagi di stasiun mana saya juga tidak tau, tambah banyak lagi yang berdiri… Bertambah bapak bapak yang sudah cukup tua, mungkin sekitar lebih dari 70 tahun umurnya…

memberikan tempat duduk prioritas

Anehnya tidak ada yang mempersilahkan tempat duduknya untuk diduduki bapak itu… Yagh, meskipun itu bukan urusan saya dan merupakan hak pemilik tempat duduk tersebut… Tapi ya aneh saja, dan bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh pak guru beberapa tahun lalu di sekolahan… Cuman agak gimana saja melihat orang tua yang sudah mulai bungkuk, meskipun dia berperawakan seorang pensiunan angkatan… Tapi banyak juga penumpang laki laki yang terlihat lebih kuat secara fisik, tetap saja tidak mempersilahkan duduk…

Sempet aneh juga, apakah dulu ga pernah dapet pelajaran seperti yang pak guru saya ajarkan… Atau memang ga mau untuk bertoleransi memberikan tempat duduk ke yang lebih membutuhkan… Saya juga bingung sambil mendengarkan lagu Owl City yang terputar waktu itu di hp saya… Yagh, bila melihat keseharian orang orang di Surabaya memang terlihat egonya gede… Ya maklum saja karena memang sifat manusia yang egosentris… Tidak semuanya, namun saya hanyak menggeneralisasi saja… Oiya, tibanya di Stasiun Kota baru, Malang, banyak penumpang yang turun… Gerbong yang tadinya penuh sesak jadi lega kembali… Hasta maƱana…

17 Comments

  1. Aku aja yang seorang perempuan masih ngga tega kalo liat lansia dan ibu hamil ga dapet tmpt duduk, walau sama2 bayar, intinya kita harus mmbiasakan hal baik walau sderhana, tp sbnrnya brrti bagi yg mmbutuhkan ^_^

  2. tiket berdiri untuk kereta lokal itu wajar dan biasa. jgn berpikir itu pelanggaran. bnyk yg protes dan tdk terangkut. mungkin yg merasa itu melanggar peraturan hny melihat dari sudut pandangnya saja. kereta lokal untung dikasih tiket betdiri,saya saja trimakasig banget. yg dpt duduk ya duduk,tiket berdiri ya berdiru, toh itu dah afa batasanya. saya merasa juga sering kerepotan jika tempat duduk di pass seat. udah tergesa2 ,repot,penting,seat hbs.
    kereta lokal jepang mah lebih parah lagi, orang2nya sampe didorong utuk bisa nutup kereta.
    bukan pelanggaran itu, bnyk yg happy malah.

  3. Saya kemaren di solo juga aneh Yug.
    Pas naik becak, yang narik bapak setengah tua.
    Dia bilang, “mari mas silahkan duduk”.
    Saya taruh helm sama tas ke tempat ke kursi becak, terus berdiri di samping becak.
    Bapak aja yang duduk di depan, saya tak ngayuh becaknya. Buat olahraga Pak, dulu saya juga sering kok bawa besak nganterin santri yg sakit.

  4. tetep gak enak rasanya kalo liat orang tua sepuh yang berdiri..
    meskipun masih jauh, ane ttp lebih milih ngasihin t4 duduk ane, trus jalan2 cari t4 berdiri yg bisa ttp nyantai n sejuk

  5. kereta lokal dan/atau commuter memang saat ini seperti itu, khususnya di daerah jatim. di tiket, ada yg dapet nomor tempat duduk, ada juga yang TANPA tempat duduk..dan seluruh pembelian tiket saat ini hanya bisa dilakukan di hari keberangkatan (dulu kereta lokal AKDP tiketnya bisa dibeli di hari sebelum keberangkatan) jadi sekarang kalo mau naek kereta lokal, anda harus saingan dengan ratusan penumpang dstasiun dimana kereta berhenti, disaat loket dibuka di jam yang sama dseluruh stasiun yang dilewati, maka disaat itu juga nasib kita bertumpu pada petugas pencetak tiket..SIAPA CEPAT DIA DAPAT.dan walaupun kereta ini tanpa tempat duduk, dan bisa berdiri, ANDA JUGA BISA KEHABISAN TIKET(mungkin KAI punya rumusan berapa maksimal orang yang boleh berdiri ddlm gerbong…konyol)..entah apa alasan KAI membuat aturan seperti ini.

  6. Mungkin mikirnya sama2 beli tiket dgn harga sama,kenapa harus berdiri kalo bisa duduk, atau emansipasi wanita. Wanita tidak di anggap kaum lemah, jadi berdiri pasti kuat.

    KAI harus berbenah kenapa jumlah kursi lebih sedikit dari jumlah tiket yang dijual.

  7. mungkin mereka yang berdiri karena memang tiketnya tanpa nomor kursi. soalnya saya pernah juga naik kereta penataran dari baron tujuan malang kotabaru, kata petugas tiket duduk sudah habis, yg ada tiket berdiri, harga sama tapi tanpa nomor kursi, saya ambil saja dan ternyata banyak juga penumpang lain yg begitu. mungkin yg tidak mau memberikan kursinya karena memang dia dapat tiket duduk dan tujuannya masih jauh, jadi dia merasa berhak duduk disitu

    • Sekedar kasih info aja. KAI sekarang gak seperti KAI waktu dipegang Pak Ignasius Jonan.
      Mulai dr tender komponen Kereta, sampai hal hal seperti ketertiban di gerbong sudah gak setertib jaman pak Jonan.
      Skrg kolusi, korupsi marak lagi…jaman dulu personel dibawah KAI ketauan ngobyek langsung disikat ama pak Jonan.
      Angkat Topi buat Pak Jonan. Sekarang Nol!

Leave a Reply