Mampukahn Airbus A320neo Mengalahkan Boeing 737 Max…??

Ilustrasi: Cockpit CN235...

Boeing 737 Max VS Airbus A320Neo

Yeah… Akhirnya ada kemauan lagi untuk membuat oret oretan tentang pesawat diblog ini… Gara gara belakangan ini iseng buka forum tentang aviasi di interntet… Banyak pembahasan sebenernya, tetapi ada satu hal yang menarik perhatian… Adalah tentang kedua pesawat yang mempunyai julukan masing masing, Baby Boeing dan Baby Airbus… Yap, siapa lagi kalau bukan Boeing 737 Max dan Airbus A320neo… Keduanya memang bisa dibilang facelift dari versi sebelumnya… Jika Boeing 737 Max merupakan facelift dari 737 NG (Next Generation), maka Airbus A320neo merupakan pembaharuan dari A320ceo (Current Engine Option)…

Sebenernya bahasan kali ini sedikit teknis dengan dibumbui sok tau, jadi kalau ada yang ga bener Colek Me If I’m Wrong (CMIIW) :mrgreen: … Woke kita mulai dari sekarang… Sebelumnya pernah ga memperhatikan pesawat saat take off/meninggalkan landasan…?? Dalam hal ini Boeing 737 series dan Airbus A320 family, terutama Boeing 737 Next Generation… Jika diamati dengan teliti, anatara Boeing 737 NG dengan Airbus A320 family ada hal yang menarik saat prosesi take off…

Bagi yang sering mengamati pasti tahu kalau Boeing 737 NG lebih powerfull dari pada Airbus A320 family… Lho kok tau…?? Sebenernya cukup mudah melihat keluarga 737 NG lebih powerfull dan A320 family yang lebih inferior… Pada saat final take off dan sang pilot narik yoke (kalau itu Boeing) atau narik stick (kalau itu Aibus) akan terlihat… Pada saat pilot narik stir (halah) pesawat maka nose atau hidung pesawat pun akan terangkat… Nah, dalam hal ini akan akan terlihat kalau angle of attack (derajat kemiringan pesawat terhadap garis horizontal) Boeing 737 NG lebih curam dibandingkan A320 family… Dan anehnya setiap saya amati kok ya memang Airbus A320 selalu kalah dalam angle of attack :mrgreen:

Ilustrasi: Cockpit CN235...
Ilustrasi: Cockpit CN235…

Oke, bahas dulu dikit… Perlu diketahui kalau angle of attack pesawat seukuran A320 dan 737 paling besar hanya berkisar di 15an derajat, meskipun sebenernya banyak yang mempengaruhi… Lebih dari itu maka pesawat akan stall setelah sebelumnya muncul stall warning di cockpit… Jika sudah stall dan pilot terlambat untuk menyadari maka akan bahaya tuh… Stall sendiri mengakibatkan daya angkat berkurang drastis karena gara gara angle of attack yang melebihi critical point tadi… Tekanan angin di atas pesawat pun berkurang dan sebaliknya, tekanan di bawah pesawat akan meningkat… Mesin pesawat pun tidak kuasa untuk memberikan tenaga yang lebih besar… Jika sudah stall maka tetep kalem dan turunkan nose, dorong thrust untuk membuka tenaga yang lebih besar, kemudian kembali ke ketinggian awal… Jika masih belum mudeng maka buka saja google :mrgreen:

Oke, kembali ke Boeing 737 NG yang lebih superpower dibanding Airbus A320 family… Boeing 737 NG dan Aibus A320 sendiri di Indonesia sepertinya banyak yang menggunakan mesin dari CFM International, hasil kerjasama dari General Electric dan SNECMA… Dan untuk Boeing 737 NG sendiri menggunakan seri CFM56 seri 7 yang sanggup mengeluarkan thrust sebesar 27.300 lbf (pada -7B27)… Sementara untuk Airbus A320 hanya dibekali dengan mesin CFM56 seri 5A yang mengeluarkan thrust puncak sebesar 25.000 lbf… Dari segi mesin saja Aibus A320 yang terlihat under power yang dapat mempengaruhi kecepatan take off dan angle of attack saat take off…

CFM Leap Engine...
CFM Leap Engine…

Namun ada yang berubah dari seri terbaru kedua pesawat tersebut… Boeing 737 Max yang kabarnya akan dibekali dengan CFM Leap 1B dan Airbus A320 akan dibekali dengan mesin CFM Leap 1A… Terlepas pilihan mesin bisa saja berubah sesuai pilihan, bisa juga menggunakan mesin dari Pratt & Whitney, GE atau yang lain… Tapi untuk gambaran saja kita gunakan mesin dari CFM International…

CFM Leap 1A yang akan digunakan oleh Airbus A320neo (New Engine Option) akan dapat menghasilkan thrust sebesar 24,500 – 32,900 lbf… Sedangkan mesin Leap 1B yang akan digunakan 737 Max hanya menghasilkan 23,000 – 28,000 lbf… Sebenernya ada satu lagi tipe Leap yaitu 1C yang akan digunakan oleh Comac 919 (pesawat asal Tiongkok)… Nah, dengan menggunakan mesin yang terlihat lebih powerfull pada Airbus A320neo akankan pesawat ini dapat mengalahkan Boeing 737 Max dalam hal take off…?? Mulai dari angle of attack dan kecepatan saat take off…??

Yagh, seperti yang sudah saya bilang tadi, banyak hal yang mempengaruhi seperti berat pesawat dan barang yang dibawa… Namun dengan dibekalinya mesin yang lebih powerfull ada sedikit harapan lagh untuk Airbus A320neo agar tidak lagi menjadi bulan bulanan fansboy Boeing :mrgreen: … Saat ini sendiri A320 banyak yang mencibir pesawat underpower dan lambat saat take off… Dengan mesin CFM Leap 1A mungkin saja bisa memperbaiki A320 lama yang menyandang predikat tersevut :mrgreen:

Last, entah apa itu semboyannya, baik itu “If it’s not Boeing, I’m not goeing” maupun “If it ain’t Aibus, I’m taking a buss”, tapi tetep satuΒ  yaitu ” In thrust we trust”… Dan sepertinya perseturuan anatara Fans Boy Boeing dan Fans Boy Airbus akan tetap berlanjut seperti perseturuan fans boy didunia permotoran :mrgreen: … Sepertinya memang harus ada satu majalah yang mencoba adus drag race antara Airbus A320neo dan Boeing 737 Max nantinya agar benar benar gamblang :mrgreen: … Dan tumben saya kali ini nulisnya puanjang dan lebar sekaleee :mrgreen: … Hasta maΓ±ana…

13 Comments

  1. Tapi beberapa kali saya naik pesawat Boeng 737 ataupun Airbus 320, kok kalo saya rasanya lebih nyaman naik Airbus, saat pesawat “bermanuver” ataupun terkena Turbulence Airbus masih lebih nyama. Bahkan pas Landing jika dirata-rata saya merasakan hentakan yang lebih soft pada Airbus, kalo Boeing sering “gedubrakkkk gludug glududg” hehehe, kecuali 737 nya Garuda. Mungkin faktor pilot juga sih.

  2. setuju banget..

    bahas masalah Engine :
    boeing kayanya membuat turbofan dengan ke akuratan spec A/C yang akan dia keluarkan, seperti 777-300ER

    B777-300ER hanya membutuhkan 2 engine. dengan panjang body yang hampir sama dengan Airbus A340, dan A340 menggunakan 4 engine.

    tapi menurut saya penggunaan engine 2 atau 4 mempunyai maksut dan tujuan yang berbeda πŸ˜€

  3. Salam kenal, mas. Menarik nih tulisannya, yg sebenarnya rumit tapi sampean tuangkan dengan cara yg enak dibaca.

    Saya sendiri sejak lama membaca-baca debat fanboy boeing vs airbus, berkesimpulan bawa 737 vs 320s sebenarnya berfilosofi teknis berbeda. Jadi walaupun serupa tapi tidak bisa disandingkan begitu saja. Masing-masing ada poin-poin plus dan minus.

    Saya tunggu tulisan aviasi berikutnya.

  4. pembeli airbus atau boeing adalah airlines/maskapai, tujuannya ya jelas utk “narik”, bukan buat adu drag apalagi adu keren πŸ˜€

    dan maskapai adalah perusahaan pencari untung, maka simpelnya buat maskapai adalah pilih yg paling menguntungkan saat operasionalnya nanti :
    > ongkos service dan spare part-nya murah,
    > IRIT BBM (kalo ini mah teuteup…….. jadi bahan BC sepanjang masa)
    > mampu angkut sebanyak mungkin “sewa” πŸ˜€

    • Bukan cuman dari maskapai Mas… ACJ dan BBJ banyak yang beli bukan dari maskapai…
      Dan sebenernya banyak pertimbangan… bukan hanya karena A320 lebih irit lalu pada beli A320… dan bukan hanya 737 lebih powerful pula lantas pada beli 737…

    • bizjet tsb (ACJ/BBJ) dikembangkan berdasarkan versi mass-pro 320 atau 737) lalu ditambahkan aviuonics serta feature, accesories, dll (malah ada yg sampe ganti mesin) sesuai maunya/kebutuhan si pemesan tsb, dan volume penjualan bizjet ini gak sampe 10% dari versi mass-pro (utk boeing atau airbus ya)

      pabrikan spt airbus/boeing akan jauh lebih mendengarkan suara dari maskapai dalam pengembangan (new product, new series development, maupun “facelift”) daripada suara pemesan bizjet, tapi lain cerita kalo ngomongin pabrikan spt Gulfstream, Embraer, Beechcraft yg memang periuk nasinya dari bizjet.

      pertimbangan lain memang ada kok, ada parameter yg umum dipakai maskapai spt:
      > operational cost/hour; dan
      > revenue per seat per kilometer

      dan nanti maskapai akan cek lagi apakah sudah sesuai dg profile mission maskapai tsb atau tidak, belum lagi kalau bicara profile mission utk setiap route-nya.

      again, memang bukan sekedar “irit” atau “powerful”, ujung2nya yg dicari adalah “the real profit maker” for this airline. πŸ™‚

Leave a Reply