Menatap Lembayung Disaat Kemarau Terlambat Pulang…

Lembayung (1)

Menatap lembayung di langit Bali…

Dan kusadari betapa berharga kenanganmu…

Di kala jiwaku tak terbatas…

Bebas berandai memulang waktu…

Well… Itulah penggalan lirik Lembayung Bali yang dengan sempurna dibawakan oleh Saras Dewi, kata-kata yang sangat mengena dan dibawakan dengan penuh penghayatan :aih: :mrgreen: … Sore hari memang waktu yang cocok untuk me-refresh pikiran yang telah seharian berkutat dengan hiruk pikuk kesibukan… Tiap orang tentu memiliki cara sendiri-sendiri untuk membuat pikiran menjadi segar kembali dan siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya diesok pagi…

Dihiasi oleh menara sutet yang tertata rapi...
Dihiasi oleh menara sutet yang tertata rapi…

Saya sendiri hampir setiap sore selalu menyempatkan untuk memburu “lembayung”… Yup, bukan tanaman lembayung, melainkan matahari tenggelam a.k.a. sunset… Inilah cara saya untuk menikmati sore, berhenti sejenak untuk memikirkan kesibukan sehari-hari… Lebih memilih naik motor dengan santai menuju tengah-tengah sawah perbatasan dusun… Menuju ke spot faforit untuk mencari ketenangan dan menikmati matahari yang bersiap untuk pulang sambil menikmati semilir angin timur… Bapak dan Ibu petani pun mulai bersiap untuk beranjak pulang… Suasana yang susah untuk dituliskan… Aish… :mrgreen:

Kalau kata Bang Iwan Fals, "Seperti Mata Dewa"...
Kalau kata Bang Iwan Fals, “Seperti Mata Dewa”…
Mulai kembali ke peraduan...
Mulai kembali ke peraduan…

Dan tak lama berselang, sang raja disore hari pun benar-benar pulang… Seolah mengatakan, “Hasta mañana…

Hasta Mañana...
Hasta mañana…

5 Komentar

Tinggalkan Balasan